Newsletter

Suka Dengan artikel Di blog Ini, Masukkan alamat Email Anda Di Bawah Ini Untuk berlangganan artikel Blog Ini GRATISS...!!

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Followers

Popular posts

Banner Musuh

Photobucket
(SYMOI) gubuk blekenyek cooltext433177153
http://borneoblogger.com/
logo Paddi Blog

Your Banner Here. .!!
Fatkhan On Minggu, 14 Agustus 2011



Ia sangat percaya pada tahyul. Walau di zamannya perkara tahyul bukan sesuatu yang aneh. Tetapi untuk seorang raja Yemen penguasa semenanjung Arab, seperti Yehia Hamid, kepercayaan itu terdengar ganjil. Baik di kalangan rakyatnya maupun negara tetangga.
Sang raja sangat yakin bahwa gambaran rupa wajah adalah sesuatu yang “suci” pantang untuk dilukiskan dalam sebidang media. Jika tabu ini dilanggar orang yang dilukis (dipotret) dipercaya akan bernasib sial, mati dalam keadaan tragis.

Demi melindungi nyawanya dan kepercayaannya pada tahyul tersebut, ia melarang juru foto, wartawan, pelukis dan seniman, atau siapa saja untuk melukiskan atau membuat potret maupun sketsa wajahnya. Eksesnya, selain keluarga dekat, kerabat dekat, pejabat negara dan orang-orang yang pernah bertemu dengannya, wajah sang raja
Yehia Hamid adalah sebuah misteri.

Rakyat yang pemerintahan kerajaan Yemen di bawah kuasanya, hampir seluruhnya tidak mengenal pasti wajah rajanya. Hal ini menimbulkan sungut dan penasaran rakyat jelata. Sampai terlontar ucapan kesal: “Bagaimana mungkin (rakyat) kami tak pernah mengenal rupa raja kami!” Bagi mereka kepercayaan raja pada tahyul sangat berlebihan.

Suatu hari, Raja Yehia Hamid mengundang seorang pelukis Italia kondang ke istananya di Wadi Dhar dekat Sana’a, ibukota Yemen. Undangan itu bukan untuk melukis wajah sang raja, melainkan sekadar bincang-bincang semata. Sang pelukis tahu betul bahwa Yehia Hamid sangat percaya tahyul tentang lukisan wajah. Dalam hati ia berniat untuk melukis wajah sang raja. Ia pun “merekam” detail wajah sang raja dalam memori kepalanya.

Setelah kunjungan ramah tamah itu usai, si pelukis pun memulai langkah besar dalam karyanya. Ia ingin menjadi orang pertama yang membuat lukisan sang raja Yemen, Yehia Hamid. Selama beberapa waktu ia membuat lukisan potret raja berusia 81 tahun itu hingga akhirnya selesai!

Ia sangat puas akan hasil lukisan potretnya. Sebab sapuan pada kanvas di hadapannya sangat hidup. Seolah sang raja sedang berdiri menatapnya! Ia pun berniat untuk mempublikasikan salinan lukisan tersebut pada media, dan menyerahkan hasil aslinya pada sang raja sebagai sebuah hadiah istimewa.

Sebuah Tragedi
Pada pekan terakhir Februari 1948, si pelukis menyerahkan salinan lukisan potret Yehia Hamid pada media. Surat kabar segera merespons hal tersebut dan mempublikasikan potret sang raja dalan porsi halaman yang besar. Publikasi ini menggemparkan dan disambut antusias oleh pembaca.

Sementara, saat si pelukis akan mengirimkan lukisan potret asli pada Yehia Hamid, ia terkejut membaca sebuah berita di media terbitan Mesir. Berita tersebut mengabarkan: Raja Yemen, Yehia Hamid tewas ditembak, bersama tiga anak dan seorang penasihat kerajaan! Pemerintahan Yemen untuk sementara diambil alih pemerintahan darurat, disebutkan bahwa pembunuhan itu terjadi pada 17 Februari 1948. Diduga terkait suksesi Yehia Hamid yang erat dengan pertikaian politik mengenai siapa pewaris tahta kerajaan Yemen di antara 16 calon pewaris!

Pelukis Italia itu terhempas. Ia merasa sangat menyesal telah melanggar tabu sang raja. Ia merasa sangat bersalah karena tanpa izin telah membuat lukisan wajah sang raja.

Pada saat itu, potret Raja Yemen Yehia Hamid yang selama ini diliputi misteri pun terkuak. Walau sang raja berupaya sebisanya berpantang wajahnya dipublikasikan, namun akhirnya tabu itu terlanggar dan pada saat yang sama ia pun tewas terbunuh secara tragis.

Apakah lukisan potret tersebut berhubungan dengan tabu sang raja? Apakah hanya suatu kebetulan saat wajahnya dipublikasikan dan pembunuhan itu pun terjadi? Atau benarkah tahyul itu berubah menjadi sebuah kenyataan? Tak ada yang tahu, misteri tetaplah misteri! (berbagai sumber)

Sepotong Kisah Yahya M Hamid ad-Din
Nama aslinya panjang: HM Amir al-Mumenin al-Mutawakkil ‘Ala Allah Rab ul-Alamin Imam Yahya bin al-Mansur Bi’llah Muhammad Hamidaddin. Namun ia biasa dikenal sebagai Yehia Hamid atau Yahya Muhammad Hamid ad-Din (Imam Yahya) atau Mahmud al-Mutawakkil.

Ia adalah putra Sayyid Yahya bin Muhammad, terlahir dari cabang keluarga Hamad ad-Din dari Dinasti al-Qasimi. Ia lahir pada 1867.

Saat Yahya masih kecil, Yemen adalah salah satu provinsi Kekaisaran Ottoman. Sejak muda ia menghabiskan waktu untuk menangani pekerjaan administrasi ayahnya. Saat berusia 37 tahun, ayahnya meninggal dunia dan ia ditunjuk sebagai pewaris bergelar Imam Yahya. Persis 4 Juni 1904 (sampai 2 September 1926), ia menjadi Imam yang memimpin wilayah pegunungan di wilayah Utara Yemen.

Di bawah pemerintahannya, Yemen menentang kebijakan peraturan Turki dan Yahya kemudian segera menyusun potensi kekuatan militernya. Perang sporadis pun meletus sampai tahun 1911.

Politik Imam Yahya terfokus pada upaya melindungi Yemen dari semua bentuk pengaruh asing. Yemen Utara dalam kepemimpinan Yahya menjadi negeri kecil yang sangat kuat dan terisolasi dari negara tetangganya. Walau kemudian ia mendapat bantuan militer dari Italia (1920 dan 1930-an) ia tetap menolak hubungan permanen dan misi diplomatik.

Ia mendelegasikan kekuasaan sektoral pada para bangsawan (sayyid) sebagai kepala pemerintahan lokal (semacam kepala daerah)—walau akhirnya penentangan politik terhadap kepemimpinannya yang konservatif isolatif ini menjadi faktor yang memicu terbunuh Imam Yahya di tahun 1948.

Berkaitan dengan berakhirnya Perang Dunia I (1918), Ottomans kehilangan kontrol pada Yemen Utara dan Yahya pun memaklumkan negerinya sebagai negara merdeka! Sejak 2 September-17 Februari 1948, Yahya bin Muhammad memaklumkan dirinya sebagai penguasa dan Raja Yemen wilayah Utara.

Namun dalam perang House of Saud (perang dengan dinasti Saudi di Arab) tahun 1934, pasukan Yahya dipatahkan. Tetapi Raja Ibnu Saud menawarkan perdamaian tanpa memberi konsesi lahan.

Pada 1946, situasi politik Yemen Utara memanas, saat oposisi rejim Yahya semakin kuat dan terorganisir. Imam Yahya Muhammad Hamidaddin akhirnya tewas diberondong tembakan pada 17 Februari 1948. Ia digantikan anaknya Ahmad bin Yahya. (berbagai sumber)

Yemen, Negeri di Semenanjung Arabia
Yemen adalah satu negara tua di jazirah Arabia. Letaknya persis di semenanjung Arab, Barat daya Asia. Berbatasan dengan Saudi Arabia di Utara, laut Merah di Barat, dan Laut Arab dan Teluk Aden di Selatan, serta Oman di timur.

Yemen yang kini bernama asli al-Jumhuuriyya al-Yamaniyya, sejarahnya dimulai pada masa Kerajaan Minaean (1200-650 SM) dan Sabaean (750-115 SM). Yemen kuno merupakan wilayah perdagangan yang sibuk dan menguntungkan. Namun ia dijajah Romawi pada abad pertama Masehi, seperti juga Ethiopiadan Persia di abad keenam Masehi.

Pada tahun 628, Yemen memeluk Islam dan diabad kesepuluh, ia berada di bawah kekuasaan dinasti Rassid dari Sekte Zaidi, yang tetap berkuasa dalam politik di Yemen Utara sampai 1962. Wilayah yang dijajah Turki Ottoman sejak 1538-1918.

Wilayah utara Yemen dikuasai para imam sampai militer pro Mesir melakukan pengambil-alihan wilayah pada 1962. Junta militer memaklumkan berdirinya Yemen Arab Republic.

Sebelum meleburkan diri menjadi dua negara, Yemen terbelah menjadi dua negara. Pertama negara People’s Democratic Republic of Yemen dan dan Yemen Arab Republic. Namun pada 22 Mei 1990, kedua negara dilebur menjadi Republic of Yemen setelah selama 300 tahun terpisah. Presiden pertama negara baru itu adalah Ali Abdullah Saleh.

Luas Yemen kira-kira sebesar Prancis. Terdiri dari wilayah pesisir pantai pegunungan dan area plato sepanjang 1.130 km (700 mil) dengan luasan area 527.968 km persegi. Total penduduknya 20.000.000 juta jiwa (sensus Juli 2005). Negara ini beribukota Sana’a. Satu negara makmur di Semenanjung Arab!

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments